Gula Aren Produksi Desa Lebak Peundeuy Terbaik di Kabupaten Lebak

Gemasiber80news.com, LEBAK – Komoditi gula aren kini menjadi produk unggulan pedesaan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Bacaan Lainnya

Sentra produksi gula aren tersebar di beberapa desa terutama di Lebak selatan, salah satunya Desa Lebak Pendeuy, Kecamatan Cihara.

Ratusan pengrajin memproduksi gula aren setiap harinya. Puluhan hektare lahan pohon aren di Desa Lebak Peundeuy, berpotensi menghasilkan gula aren 6 – 7 ton per bulan.

Menurut Kepala Desa Lebak Peundeuy, Jahid, gula aren yang diproduksi di wilayahnya memiliki kualitas terbaik jika dibandingkan dengan wilayah lain.

“Gula aren produksi Lebak Peundeuy kami jamin kualitasnya. Murni air nira yang diproses hingga jadi gula, tanpa bahan pengawet,” terang Jahid, Senin (30/1/2023).

Gula produksi Lebak Peundeuy memiliki tekstur berwarna coklat tua, padat, dan tidak keras. Dibungkus atau dikemas dengan menggunakan daun salak.

Dalam sehari, kata Jahid, satu pengerajin bisa menghasilkan 6 – 10 kilogram gula aren.

“Tergantung hasil air nira, tapi jika dirata-rata satu hari bisa menghasilkan 3 hingga 4 kojor. Satu kojor kira-kira beratnya 1,8 – 2 kilogram,” jelasnya.

Untuk harga gula aren, satu kojor yang terdiri dari 5 biji gula dijual dengan harga Rp30 – Rp35 ribu. Dipasarkan ke berbagai daerah di Banten dan Jabodetabek.

Kata Jahid, gula aren buatan warganya sempat memasok beberapa pabrik di wilayah Jakarta dan Bekasi, terutama pabrik kecap dan selai. Namun karena persaingan harga, kini tak lagi menyuplai.

“Gula buatan Sukabumi harganya lebih miring, entah menggunakan campuran apa. Kami tetap bertahan dengan kualitas dan keaslian, jadi harganya tidak masuk disana,” kata Jahid.

Untuk itu, Jahid meminta pemerintah daerah bisa memfasilitasi agar gula produksi pengerajin bisa memasok pabrik-pabrik di sekitaran Banten dan Jakarta.

“Kalau dipasok ke pabrik cara kemasnya lebih mudah, dan harga stabil karena sudah ada kontrak. Kami berharap pemda bisa memfasilitasi,” harap Jahid.

Meski demikian, Jahid yang awalnya juga pengerajin gula aren ini, mengaku senang warga di Desa Lebak Peundeuy tetap bisa menghidupi keluarga dari hasil gula.

“Alhamdulillah, warga tetap bisa bekerja dan mencari nafkah dari hasil gula aren selama puluhan tahun. Kami yakin alam akan terus memberi, asal kita juga mampu merawatnya,” pungkas Jahid. *(Dena F.P)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *