Kriss Air Bersih: Sudah Lebih dari Tiga Bulan, Warga Nangka Bubur Butuh Air 

 

Gemasiber80news.com,SERANG – Kampung Nangka Bubur, Desa Kedungsoka, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Provinsi Banten sebagai kampung tertinggi di wilayah Kedungsoka, setiap musim kemarau tiba, warga di sini harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan segalon air bersih.

Sumur-sumur umum mengering, mata air menyusut, dan perjalanan berat menanti siapa saja yang ingin memenuhi kebutuhan paling dasar ini. Bagi warga Nangka Bubur, air bersih bukan hal yang mudah didapat, ia harus diperjuangkan dengan keringat, tenaga, dan waktu yang tak sedikit.

Kini, krisis air bersih sudah dirasakan warga Nangka Bubur selama lebih dari satu bulan. Lima sumur umum yang menjadi tumpuan utama kebutuhan air warga kini tak lagi meneteskan air. Perlahan menyusut, lalu kering total. Pompa air yang biasanya berbunyi riuh setiap pagi kini hening tak ada lagi yang keluar dari dalam tanah.

“Sudah lebih dari Tiga Bulan sumur di rumah maupun di tempat umum tidak keluar air. Kami terpaksa harus mencari air ke tempat yang jauh, padahal kebutuhan air itu setiap hari ada.”ungkap Mad Misan warga Nangka Bubur

Nangka Bubur adalah wilayah yang paling parah terdampak kekeringan setiap musim kemarau berlangsung. Berada di dataran tinggi membuat warga menjadi yang pertama kehilangan air, dan yang paling terakhir mendapatkannya kembali
Lanjut Mad Misan, “mengingat sumber air di kampung sendiri telah habis, kami warga Nangka Bubur terpaksa berjuang menempuh perjalanan jauh dan berbahaya hanya untuk membawa pulang jerigen-jerigen berisi air bersih

Perjuangan Yang Dirasakan Warga:

• Jarak yang Harus Ditempuh: “Warga harus turun ke bawah menuju sumber air terdekat sekitar 600 meter hingga 3 kilometer, atau berjalan sejauh 3 kilometer menuju Kampung Sumur Lubang. Setelah mengisi air, mereka harus kembali naik ke dataran tinggi, mendaki dengan beban penuh

• Jalan Sempit dan Ekstrem: “Rute yang dilalui berupa jalan beton selebar kurang lebih 1 meter dengan kontur pegunungan curam, berbelok, dan di satu sisi adalah jurang terjal. Pengendara sepeda motor harus ekstra hati-hati, karena satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

• Semua ikut berjuang: “Pria, wanita, bahkan anak-anak dan lansia, semua terlibat. Jerigen-jerigen diangkut dengan sepeda motor, dipikul di pundak, maupun digotong berjalan kaki di bawah terik matahari yang menyengat. Keringat yang menetes saat mengangkut air kadang lebih banyak daripada air yang dibawa pulang.

“Mencuci piring saja harus ke kampung lain. Di rumah tidak keluar air dari pompa. Jadi mengambil air dari kampung lain walaupun jauh, ya gimana lagi..? kami butuh air.” keluh Mad Misan, warga Nangka Bubur

Menurutnya, “Yang paling berat dirasakan warga bukanlah panasnya matahari atau jauhnya jarak, melainkan kondisi ini terulang setiap tahun, dan belum ada solusi permanen. Sumur bor yang dalam, penampungan air hujan, atau jaringan air bersih yang memadai semuanya belum menjangkau kampung tertinggi ini.

“Setiap tahun kami menghadapi hal yang sangat sulit, bukan hanya kekeringan air bersih, namun akses jalan yang tidak memadai, hingga kini jalan masih setapak tanpa ada ada roda tiga, maupun roda empat masuk ke kampung warga Nangka Bubur, “jangankan mobil, becak bahkan gerobak pun sulit masuk di kampung ini. imbuhnya

“Kami berharap kepada pemerintah segera turun tangan dan bergerak cepat untuk memperhatikan kondisi kami “warga Nangka Bubur ini membangun sumur bor yang lebih dalam, menyalurkan bantuan air bersih secara rutin saat kemarau, dan mencari solusi yang permanen terutama membangun akses yang memadai, karena ini perjuangan berat bagi kami warga “Nangka Bubur, desa Kedungsoka,”pungkasnya.

*(Tim/Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *