Gemasiber80news.com, SERANG – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Serang memandang lanskap kebangsaan hari ini tengah diuji dalam simpul kontradiksi yang amat telak. Di satu sisi, hamparan bumi Nusantara di berbagai penjuru seolah dipaksa menyerah pada kepungan api dan asap pekat akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang meracuni ruang hidup jutaan manusia.
Di sisi lain, ruang publik nasional justru disesaki oleh bisingnya intrik kekuasaan, manuver faksional, dan pergesekan elite yang seakan hidup di dimensi yang sama sekali berbeda dari penderitaan rakyat.
Melalui Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Serang, Anang M Faisal, organisasi ini melayangkan kritik tajam terhadap tumpulnya kepekaan struktural para pengambil kebijakan yang kian tercerabut dari realitas.
“Ada jarak yang teramat lebar antara apa yang dirasakan oleh rakyat di akar rumput dengan apa yang dipikirkan oleh para pemegang diskresi di pusat. Ketika paru-paru anak bangsa di berbagai daerah sesak oleh racun asap karhutla yang dibiarkan berulang setiap tahun, para elite justru asyik berkutat dalam kalkulasi syahwat kuasa dan pertikaian kelompok. Ini bukan sekadar kelalaian birokratis, melainkan bentuk nyata kebangkrutan nurani dan hilangnya kompas kenegaraan,” tegas Anang M Faisal di Serang, Rabu (4/11/2026).
HMI Cabang Serang menganalisis bahwa karut-marut yang melanda Indonesia hari ini merupakan akumulasi dari pengabaian prinsip-prinsip dasar bernegara. Ketika hukum dan institusi negara kerap ditarik-tarik ke dalam pusaran pragmatisme politik, fungsi protektif negara terhadap keselamatan warga dan kelestarian ekosistem runtuh seketika.
Bencana ekologis berupa Karhutla yang tak pernah tuntas diselesaikan secara sistemik adalah buah dari lemahnya keberanian politik (political will) untuk menyentuh akar masalah, perlindungan terhadap oligarki perusak lingkungan dan impunitas korporasi.
Negara tampak sigap dan berdaya ketika mengurus pertikaian politik, namun mendadak lumpuh dan lamban tatkala harus berhadapan dengan kejahatan ekologis yang merenggut hak hidup generasi masa depan.
“Demokrasi kita sedang mengalami atrofi moral. Ia direduksi menjadi sekadar panggung sirkus bagi kelompok-kelompok yang berebut pengaruh, sementara urusan esensial seperti keselamatan ekologis dan keadilan sosial diabaikan begitu saja. Ketika alam mulai meradang dan membakar diri, itu adalah alarm keras bahwa tata kelola republik ini sedang sakit parah,” lanjut Anang.
HMI Cabang Serang konsisten mengambil posisi di sisi kepentingan rakyat dan kelestarian bumi pertiwi.
“Kami tidak akan membiarkan republik ini berjalan tanpa arah akibat kealpaan para elite. Jika negara terus abai terhadap jeritan rakyat dan kerusakan alam, maka sejarah akan menagih pertanggungjawaban moral dari setiap kebijakan yang mereka ambil hari ini,” pungkas Anang M Faisal. *(Uzex)








